Lost
in Blue
.
Hentikan
waktu tetap seperti ini.
Satu-satunya
ke-egoisanku.
Tapi
hal itu tidak akan menjadi nyata.
Hanya
ada dua puluh empat jam sehari,
Dan
itu belum cukup setelah seratus jam.
.
.
Haruki Kajiwara menghela napas berat, mungkin
keputusannya kabur dari Tokyo dan segala kebisingannya salah. Apalagi jika
mengingat degupan jantungnya yang terlalu cepat, akibat berlari, sehingga tanpa sadar tangannya sudah meremas bagian
depan kemejanya.
‘Sial.........’
Menormalkan nafasnya pelan-pelan, Haruki mendongkak,
mencari kedai pinggir pantai untuk beristirahat, dan melangkah terseok-seok
kearah sebuah kedai sederhana. Seorang laki-laki paruh baya menanyakan
pesanannya sambil tersenyum ramah, mencatatnya dalam sebuah notebook kecil dan berlalu.
Haruki memandang kosong kearah laut yang sewarna turqoise. Okinawa pada musim panas
memang indah,tenang dan sepi. Hal yang selalu Haruki dambakan saat dirinya
duduk di bangku-nya saat jam sekolah. Dan
dia pergi kesini bukan hanya karna hal itu...........
Menghela nafas kembali, Haruki menumpukan kepalanya
pada lengan, dan kembali memandang lautan sebelum tepukan pelan pada lengannya
menyadarkan Haruki dari lamunan.
“Ah....terima kasih kek.......”
Haruki tersenyum kikuk pada laki-laki paruh baya
yang mengantarkan pesanannya. Yang dibalas dengan senyuman hangat. Haruki
menatap yakisoba dan lemon tea-nya dengan pandangan kosong,
sebelum akhirnya meraih sumpit dan mulai menyantap yakisoba pesanannya.
Kalau
aku berbalik dan menghadapi masa lalu, semuanya hilang.
Aku
tidak bisa merubah apa-apa, bahkan waktuku di dunia ini.
Aku
selalu menderita di musim panas itu,
Karna
bahkan sosokmu yang selalu kutunggu,tidak pernah menghampiriku.
Selembar pita putih melayang dan jatuh tepat di meja
Haruki. Pita itu polos,terbuat dari sutra dan bermotif bunga bewarna putih. Haruki
mengambilnya, menerka-nerka siapa pemilik pita yang jatuh tepat di meja-nya
itu. Sebelum sebuah suara lembut mengagetkannya.
“Anoo.....kakek...apa
kau melihat pita yang terbang?“
Seorang gadis berambut sepinggang tampak sedang
berdiri di depan pintu kedai tersebut. Kulitnya pucat, rambutnya bewarna coklat
muda dan lurus, dan tubuhnya terbalut summer
dress putih dan bermotif hibiscus bewarna baby blue. Yang menarik Haruki untuk memperhatikan gadis itu adalah
matanya,biru langit.
“Ah.....apakah
pita yang kau sebutkan adalah pita ini?”
Haruki menunjukkan pita putih yang sedang
digenggamnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaan. Haruki menatap gadis di depannya dengan kikuk. Kalau
diperhatikan,gadis ini ternyata berkulit sangat pucat,seperti orang yang tidak
pernah keluar dari rumah atau berpenyakitan.
‘Jangan-jangan
vampir lagi.’
Haruki membatin ngaco. Gadis itu tersenyum. Matanya
birunya bersinar dan menyipit,lesung pipit terlihat di kedua pipinya. Manis sekali. Haruki cepat-cepat menutup
mulutnya dengan tangan kirinya,dan menyerahkan pita tersebut dengan tangan
kanan. Wajahnya mungkin sudah merah sekali sekarang.
“Mmm..........terima
kasih.....”
Gadis itu tersenyum kembali. Mengambil pitanya dari
tangan Haruki dan mengikatkannya dirambutnya. Merapikan rambutnya dengan jari
dan menatap Haruki lurus-lurus. Dan mengulurkan tangannya pada Haruki.
“Namamu?”
“Eh?”
“Aku bertanya siapa namamu tuan-pemungut-pita.”
Gadis itu tersenyum geli dibalik telapak tangannya. Mungkin menertawai wajah Haruki yang bodoh?
“Ah…..namaku…..Haruki
Kajiwara.”
Haruki menyambut
uluran tangan gadis itu dan tersenyum. Mungkin
senyumnya aneh. Gadis itu tersenyum lagi dan menatap Haruki dalam-dalam.
Mata biru itu serasa
menusuknya.
“Haruki Kajiwara
eh? Apa
kau mengenalku Haruki-kun?”
Haruki menatap
gadis itu dengan heran. Bertemu dengan gadis di depannya?
Rasanya belum pernah. Apalagi bila mengingat hampir semua gadis Tokyo berambut
pirang atau coklat kemerahan,hasil dicat
tentu saja, dan Haruki hampir
tidak pernah menemui gadis Tokyo berambut coklat muda alami dan berkulit pucat
bagai vampir. Apalagi jika matanya biru.
Kalau dia dan gadis itu pernah bertemu, pasti Haruki ingat padanya. Melupakan gadis seperti-nya adalah hal yang
mustahil....................
Gadis itu tersenyum sedih, pandangan matanya
menerawang kearah laut. Tatapannya kosong dan berkabut. Lalu menyisipkan
rambutnya ke belakang telinga,dan tersenyum kembali. Seperti tidak ada apa-apa. Padahal senyumannya berbeda dari sebelumnya.
“Namaku Marika Ayasaki. Senang berkenalan denganmu Haruki-kun.”
“Ahh.....senang berkenalan denganmu juga.”
Haruki menjawab dengan kikuk. Perasaannya diliputi
rasa bersalah, walau dia tidak melakukan kesalahan apapun. Apa mungkin karna dia tidak pernah bertemu dengan Marika sebelumnya?
Atau.....karna tidak mengingat pernah bertemu dengannya?
“Di
depan semua ini tidak akan ada apa-apa”
Aku
bisa mendengar suara serangga musim panas dan matahari yang menertawaiku.
Aku
selalu berada disini,menunggumu.
Jika
ini takdir,kita akan bertemu lagi bukan?
“Apa kau orang baru Haruki-kun? Aku tidak pernah
melihatmu disini.”
Marika menarik kursi kayu dari meja Haruki,dan
duduk. Seperti dari awal seharusnya dia
berada di situ.
“E-ehh? Ya,aku sedang berlibur..........”
Haruki merasa bingung,apa yang harus ia lakukan
selajutnya,karna dia sama sekali tidak
punya ide.
“Apa yang kau lakukan Haruki-kun? Kau tidak akan
duduk?”
Marika menatap Haruki dengan pandangan bertanya.
Seakan Haruki adalah orang yang berperilaku bodoh. Kecuali berbicara dengan orang yang duduk sedangkan kau sedang berdiri
itu masuk hitungan.
“Hhh,baiklah.”
Haruki kembali duduk di kursinya, sementara Marika
terus memperhatikannya. Dengan mata biru-nya yang tidak lazim bagi orang Jepang,
seakan Haruki adalah makhluk ruang angkasa yang menarik,dan bahan penelitian
yang sangat bagus. Marika tersenyum,menumpukan wajah nya pada telapak tangan
dan tertawa kecil.
“Apa ada hal yang lucu Marika-san?”
Jujur,Haruki merasa agak kesal karna gadis ini
membuat dirinya bertingkah bodoh dan
sekarang malah tertawa padanya.
“Apa kau mau pergi ke festival bersamaku besok?”
“Eh?”
“Disini selalu diadakan festival setiap musim
panas,dan kembang apinya indah sekali. Makanannya sangat enak,dan banyak
permainan yang bisa kita mainkan. Apa kau mau pergi ke festival musim panas
denganku Haruki-kun? Atau..........mungkin kau akan pulang hari ini?”
“Festival musim panas denganmu? Tunggu,kita baru
saja berkenalan,karna pitamu terbang kesini,yang berarti kita sama sekali
tidak mempunyai status berteman karna kita baru saja berkenalan,apa kau ingin
pergi dengan orang asing sepertiku?”
“Jahat sekali. Apa artinya kau tidak mau berteman
denganku?”
Marika berwajah sedih,wajahnya ditekuk,dan matanya
sedikit berair seperti mau menangis. Dan Haruki
curiga itu semua cuma akting.
“Te-tentu saja tidak! Aku mau berteman denganmu–“
“Kalau begitu sudah diputuskan! Kau akan menemaniku
ke festival Haruki-kun!”
Marika tersenyum gembira dan menepuk-nepuk dress-nya dengan wajah senang. Berdiri
dan tersenyum penuh arti pada Haruki. Haruki menghala nafas frustasi. Memijit
pelipis-nya pelan dan mengangguk pasrah.
“Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”
“Di kedai ini,jam 7 malam, dan kumohon jangan telat
Haruki-kun.”
“Tentu saja aku tidak akan telat. Mana mungkin aku
membiarkan seorang gadis menunggu lama?”
Marika hanya tersenyum. Melambaikan tangan dan
pamit.
Setiap
detik waktuku selalu berharga
Karna
mungkin waktuku disini tidak lama lagi
Karna
aku harus meninggalkanmu
Yang
bahkan melupakan namaku.
Jangan
lupakan aku ya?
“Maaf menunggu lama Marika-san!!”
“Haruki-kun........”
Marika menggembungkan pipi-nya kesal,tangannya
dilipat di dada dan kakinya mengetuk-ngetuk lantai kayu kedai dengan cepat.
Haruki tersenyum meminta maaf. Memegang bagian depan kemeja-nya kuat-kuat. Nafas-nya sesak..........
“Laki-laki macam apa yang mengingkari perkataan-nya
sendiri Haruki-kun?”
Haruki tersenyum salah tingkah dan menggaruk
kepalanya kikuk. Matanya bertatapan dengan mata biru Marika yang berkilat-kilat
dan meringis putus asa.
“Sebagai permintaan maafku,bagaimana kalau kutraktir
kau hari ini Marika?”
“.......................Huuh,baiklah. Tapi kau tidak
boleh protes ya Haruki-kun!”
Haruki tersenyum, mengangguk dan menawarkan
tangannya pada Marika.
“Eh?”
“Nanti kau tersesat,lagipula festival itu
ramai,bagaimana kalau kau terbawa arus orang-orang? Berpegangan tangan jauh
lebih aman.”
Marika mengangguk. Menerima uluran tangan Haruki
dengan muka yang bersemu merah.
“Kita pergi?”
“Ya..................”
To be continued..........

Tidak ada komentar:
Posting Komentar