CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 28 Oktober 2012

Lost in Blue



Lost in Blue
.
Hentikan waktu tetap seperti ini.
Satu-satunya ke-egoisanku.
Tapi hal itu tidak akan menjadi nyata.
Hanya ada dua puluh empat jam sehari,
Dan itu belum cukup setelah seratus jam.

.
.
Haruki Kajiwara menghela napas berat, mungkin keputusannya kabur dari Tokyo dan segala kebisingannya salah. Apalagi jika mengingat degupan jantungnya yang terlalu cepat, akibat berlari, sehingga tanpa sadar tangannya sudah meremas bagian depan kemejanya.

 Sial.........’

Menormalkan nafasnya pelan-pelan, Haruki mendongkak, mencari kedai pinggir pantai untuk beristirahat, dan melangkah terseok-seok kearah sebuah kedai sederhana. Seorang laki-laki paruh baya menanyakan pesanannya sambil tersenyum ramah, mencatatnya dalam sebuah notebook kecil dan berlalu.

Haruki memandang kosong kearah laut yang sewarna turqoise. Okinawa pada musim panas memang indah,tenang dan sepi. Hal yang selalu Haruki dambakan saat dirinya duduk di bangku-nya saat jam sekolah. Dan dia pergi kesini bukan hanya karna hal itu...........       
                                      
Menghela nafas kembali, Haruki menumpukan kepalanya pada lengan, dan kembali memandang lautan sebelum tepukan pelan pada lengannya menyadarkan Haruki dari lamunan.

“Ah....terima kasih kek.......”

Haruki tersenyum kikuk pada laki-laki paruh baya yang mengantarkan pesanannya. Yang dibalas dengan senyuman hangat. Haruki menatap yakisoba dan lemon tea-nya dengan pandangan kosong, sebelum akhirnya meraih sumpit dan mulai menyantap yakisoba pesanannya. 

Kalau aku berbalik dan menghadapi masa lalu, semuanya hilang.
Aku tidak bisa merubah apa-apa, bahkan waktuku di dunia ini.
Aku selalu menderita di musim panas itu,
Karna bahkan sosokmu yang selalu kutunggu,tidak pernah menghampiriku.

Selembar pita putih melayang dan jatuh tepat di meja Haruki. Pita itu polos,terbuat dari sutra dan bermotif bunga bewarna putih. Haruki mengambilnya, menerka-nerka siapa pemilik pita yang jatuh tepat di meja-nya itu. Sebelum sebuah suara lembut mengagetkannya.

Anoo.....kakek...apa kau melihat pita yang terbang?“

Seorang gadis berambut sepinggang tampak sedang berdiri di depan pintu kedai tersebut. Kulitnya pucat, rambutnya bewarna coklat muda dan lurus, dan tubuhnya terbalut summer dress putih dan bermotif  hibiscus bewarna baby blue. Yang menarik Haruki untuk memperhatikan gadis itu adalah matanya,biru langit.

 “Ah.....apakah pita yang kau sebutkan adalah pita ini?”

Haruki menunjukkan pita putih yang sedang digenggamnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaan. Haruki menatap gadis di depannya dengan kikuk. Kalau diperhatikan,gadis ini ternyata berkulit sangat pucat,seperti orang yang tidak pernah keluar dari rumah atau berpenyakitan. 

‘Jangan-jangan vampir lagi.’ 

Haruki membatin ngaco. Gadis itu tersenyum. Matanya birunya bersinar dan menyipit,lesung pipit terlihat di kedua pipinya. Manis sekali. Haruki cepat-cepat menutup mulutnya dengan tangan kirinya,dan menyerahkan pita tersebut dengan tangan kanan. Wajahnya mungkin sudah merah sekali sekarang.

Mmm..........terima kasih.....”

Gadis itu tersenyum kembali. Mengambil pitanya dari tangan Haruki dan mengikatkannya dirambutnya. Merapikan rambutnya dengan jari dan menatap Haruki lurus-lurus. Dan mengulurkan tangannya pada Haruki.

“Namamu?”

“Eh?”

“Aku bertanya siapa namamu tuan-pemungut-pita.”

Gadis itu tersenyum geli dibalik telapak tangannya. Mungkin menertawai wajah Haruki yang bodoh? 

“Ah…..namaku…..Haruki Kajiwara.”

Haruki menyambut uluran tangan gadis itu dan tersenyum. Mungkin senyumnya aneh. Gadis itu tersenyum lagi dan menatap Haruki dalam-dalam. Mata biru itu serasa menusuknya.

“Haruki Kajiwara eh? Apa kau mengenalku Haruki-kun?”

Haruki menatap gadis itu dengan heran. Bertemu dengan gadis di depannya? Rasanya belum pernah. Apalagi bila mengingat hampir semua gadis Tokyo berambut pirang atau coklat kemerahan,hasil dicat tentu saja, dan Haruki hampir tidak pernah menemui gadis Tokyo berambut coklat muda alami dan berkulit pucat bagai vampir. Apalagi jika matanya biru. Kalau dia dan gadis itu pernah bertemu, pasti Haruki ingat padanya. Melupakan gadis seperti-nya adalah hal yang mustahil....................

Gadis itu tersenyum sedih, pandangan matanya menerawang kearah laut. Tatapannya kosong dan berkabut. Lalu menyisipkan rambutnya ke belakang telinga,dan tersenyum kembali. Seperti tidak ada apa-apa. Padahal senyumannya berbeda dari sebelumnya.

“Namaku Marika Ayasaki. Senang berkenalan denganmu Haruki-kun.”

“Ahh.....senang berkenalan denganmu juga.”

Haruki menjawab dengan kikuk. Perasaannya diliputi rasa bersalah, walau dia tidak melakukan kesalahan apapun. Apa mungkin karna dia tidak pernah bertemu dengan Marika sebelumnya? Atau.....karna tidak mengingat pernah bertemu dengannya?

“Di depan semua ini tidak akan ada apa-apa”
Aku bisa mendengar suara serangga musim panas dan matahari yang menertawaiku.
Aku selalu berada disini,menunggumu.
Jika ini takdir,kita akan bertemu lagi bukan?

“Apa kau orang baru Haruki-kun? Aku tidak pernah melihatmu disini.”

Marika menarik kursi kayu dari meja Haruki,dan duduk. Seperti dari awal seharusnya dia berada di situ. 

“E-ehh? Ya,aku sedang berlibur..........”

Haruki merasa bingung,apa yang harus ia lakukan selajutnya,karna dia sama sekali tidak punya ide.

“Apa yang kau lakukan Haruki-kun? Kau tidak akan duduk?”

Marika menatap Haruki dengan pandangan bertanya. Seakan Haruki adalah orang yang berperilaku bodoh. Kecuali berbicara dengan orang yang duduk sedangkan kau sedang berdiri itu masuk hitungan.

“Hhh,baiklah.”

Haruki kembali duduk di kursinya, sementara Marika terus memperhatikannya. Dengan mata biru-nya yang tidak lazim bagi orang Jepang, seakan Haruki adalah makhluk ruang angkasa yang menarik,dan bahan penelitian yang sangat bagus. Marika tersenyum,menumpukan wajah nya pada telapak tangan dan tertawa kecil.

“Apa ada hal yang lucu Marika-san?”

Jujur,Haruki merasa agak kesal karna gadis ini membuat dirinya bertingkah bodoh dan sekarang malah tertawa padanya.

“Apa kau mau pergi ke festival bersamaku besok?”

“Eh?”

“Disini selalu diadakan festival setiap musim panas,dan kembang apinya indah sekali. Makanannya sangat enak,dan banyak permainan yang bisa kita mainkan. Apa kau mau pergi ke festival musim panas denganku Haruki-kun? Atau..........mungkin kau akan pulang hari ini?”

“Festival musim panas denganmu? Tunggu,kita baru saja berkenalan,karna pitamu terbang kesini,yang berarti kita sama sekali tidak mempunyai status berteman karna kita baru saja berkenalan,apa kau ingin pergi dengan orang asing sepertiku?”

“Jahat sekali. Apa artinya kau tidak mau berteman denganku?”

Marika berwajah sedih,wajahnya ditekuk,dan matanya sedikit berair seperti mau menangis. Dan Haruki curiga itu semua cuma akting.

“Te-tentu saja tidak! Aku mau berteman denganmu–“

“Kalau begitu sudah diputuskan! Kau akan menemaniku ke festival Haruki-kun!”

Marika tersenyum gembira dan menepuk-nepuk dress-nya dengan wajah senang. Berdiri dan tersenyum penuh arti pada Haruki. Haruki menghala nafas frustasi. Memijit pelipis-nya pelan dan mengangguk pasrah.

“Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”

“Di kedai ini,jam 7 malam, dan kumohon jangan telat Haruki-kun.”

“Tentu saja aku tidak akan telat. Mana mungkin aku membiarkan seorang gadis menunggu lama?”

Marika hanya tersenyum. Melambaikan tangan dan pamit.

Setiap detik waktuku selalu berharga
Karna mungkin waktuku disini tidak lama lagi
Karna aku harus meninggalkanmu
Yang bahkan melupakan namaku.
Jangan lupakan aku ya?

“Maaf menunggu lama Marika-san!!”

“Haruki-kun........”

Marika menggembungkan pipi-nya kesal,tangannya dilipat di dada dan kakinya mengetuk-ngetuk lantai kayu kedai dengan cepat. Haruki tersenyum meminta maaf. Memegang bagian depan kemeja-nya kuat-kuat. Nafas-nya sesak..........
 
“Laki-laki macam apa yang mengingkari perkataan-nya sendiri Haruki-kun?”

Haruki tersenyum salah tingkah dan menggaruk kepalanya kikuk. Matanya bertatapan dengan mata biru Marika yang berkilat-kilat dan meringis putus asa.

“Sebagai permintaan maafku,bagaimana kalau kutraktir kau hari ini Marika?”

“.......................Huuh,baiklah. Tapi kau tidak boleh protes ya Haruki-kun!”

Haruki tersenyum, mengangguk dan menawarkan tangannya pada Marika.

“Eh?”

“Nanti kau tersesat,lagipula festival itu ramai,bagaimana kalau kau terbawa arus orang-orang? Berpegangan tangan jauh lebih aman.”

Marika mengangguk. Menerima uluran tangan Haruki dengan muka yang bersemu merah.

“Kita pergi?” 

“Ya..................”

To be continued..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar